Surat Al-Ikhlas ayat 1-4
Tafsir Ayat-ayat Ketuhanan Surat Al-Ikhlas 1-4

Artinya: Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (al-Ikhlas: 1-4)

Ayat di atas menyatakan : Katakanlah wahai Muhammad kepada yang bertanya kepadamu bahkan kepada siapapun bahwa "Dia yang wajib disembah dan wajib wujud-Nya  adalah  Allah, Tuhan  yang Maha Esa.

“Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa.” Artinya, Dia adalah Satu dan Tunggal, yang tidak mempunyai bandingan, wakil, saingan, yang menyerupai dan yang menyamai-Nya. Dan, lafal ini tidak boleh digunakan kecuali hanya kepada Allah semata, sebab Dialah yang Maha Sempurna dalam semua sifat dan perbuatan-Nya.

”Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” Ibnu Abbas mengatakan, ”Ash-Shamad ialah Yang semua makhluk menyandarkan diri kepada-Nya dalam setiap kebutuhan dan permasalahan mereka.” Dan ada pula yang mengartikan bahwa Ash-Shamad itu adalah Yang Dipertuan dan yang  tidak mempunyai kerongkongan. Kita membutuhkan Allah Ta’ala sedangkan Allah tidak membutuhkan kita.

“Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan.” yaitu tidak mempunyai anak, ayah, dan istri. Mujahid mengatakan, ”Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia,” yaitu tidak ada satupun tandingan dari makhluk-Nya yang akan menyaingi-Nya, atau yang mendekati kedudukan-Nya.

Ayat ini merupakan bantahan terhadap 3 kelompok yang tersesat yakni: orang musyrik, nasrani dan yahudi. Orang musyrik mengatakan bahwa malaikat adalah putri Allah, orang yahudi mengatakan Uzai anak Allah dan  orang nasrani mengatakan bahwa Isa anak Allah.
Asbabun Nuzul
Ada beberapa riwayat tentang sebab turunnya surat ini, dan dengan perincian yang berbeda-beda, namun kesemuanya mengacu kepada munculnya permintaan kepada nabi Muhammad SAW untuk menjelaskan apa atau bagaimana sebenarnya Tuhan yang disembahnya. Maka turun ayat-ayat surat ini.

قال الإمام أحمد: حدثنا أبو سعد محمد بن مُيَسّر الصاغاني، حدثنا أبو جعفر الرازي، حدثنا الربيع بن أنس، عن أبي العالية، عن أبيّ بن كعب: أن المشركين قالوا للنبي صلى الله عليه وسلم: يا محمد، انسب لنا ربك، فأنزل الله: " قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُو لَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ"


Dalam Tafsir An-Nur, disebutkan bahwa sebab turunnya surat ini adalah orang-orang musyrik menyuruh Amer Ibn Thufail pergi kepada Nabi untuk mengatakan: “engkau ya Muhammad telah mencerai beraikan persatuan kami. Engkau telah menyalahi agama orang-orang tua kami. Jika engkau mau kaya, kami akan memberikan harta kepada engkau. Jika engkau rusak akal, kami akan berusha mencari orang yang akan mengobati engkau. Jika engkau menginginkan isteri cantik, kami akan berikan kepada engkau.”

Rasulullah menjawab: “saya tidak fakir, saya tidak gila, saya tidak menginginkan wanita cantik. Saya adalah Rasul Allah. Saya menyeru untuk menyembah Allah sendiri.”

Kemudian orang Quraisy menyuruh lagi Amir mendatangi Nabi untuk bertanya. Betapa Tuhan yang disembah Muhammad itu? Apakah dari emas ataukah dari perak? Berkenaan dengan itu Allah menurunkan surat At-Tauhid ini.

Surat An-Nisa’ Ayat 48

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (al-Nisa’: 48)

M. Quraish Shihab menafsirkan ayat tersebut sebagai akibat dari orang-orang yahudi yang melakukan pelanggaran yakni berkeyakinan bahwa mereka adalah orang-orang pilihan yang kalaupun mereka berdosa Allah pasti akan mengampuninya, sehingga hal itu mengantar mereka mempersekutukan Allah, sebagaimana Firmannya yang artinya : mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah........ (QS. At-Taubat : 31), maka dalam ayat ini mereka diperingatkan bahwa Sesungguhnya Allah yang maha Esa tidak akan mengampuni siapapun, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun tanpa bertaubat, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, baik dosa besar maupun kecil, baik yang bersangkutan mohon ampun atau tidak, tetapi itu semua bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”, Ayat ini menunjukkan bahwa dosa syirik adalah dosa yang paling besar karena bukti-bukti keesaan-Nya sedemikian gamblang dan jelas terbentang di alam. Selain itu juga karena dosa ini berkaitan langsung dengan Dzat Allah serta substansi yang amat menentukan dari akidah Islam, maka sangat boleh jadi jika Allah tidak mengampuni pelaku syirik, karena tiada penghambaan diri kepada-Nya yang dapat lahir dengan mempersekutukan-Nya. Mempersekutukan-Nya merupakan pengkhianatan terbesar dalam bidang akidah.

”dan dia mengampuni yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya,” merupakan syarat sekaligus memperingatkan setiap pelanggar untuk tidak mengandalkan sifat pengampun Allah atau berdalih dengannnya untuk melakukan pelanggaran. Memang, seandainya semua pelanggaran Syirik diampuni –Nya maka tidak ada lagi arti perintah dan larangan-Nya.

Ayat yang serupa dengan ayat 48 ini adalah ayat 116

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa’ 116)

Ayat ini dikemukakan dalam konteks siksa ukhrowi, sedang ayat 48 dikemukakan dalam konteks ancaman siksa duniawi. Demikian Thabathaba’i dalam tafsirnya. 

Untuk Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat 22-24 bisa anda baca dengan klik di sini
Sekian postingan kali ini dengan judul "Tafsir Ayat-ayat Ketuhanan (Surat Al-Ikhlas 1-4 dan An-Nisa' 48)". Semoga bermanfaat. Dan jangan lupa klik tombol share media sosial ya sob. Terimakasih dan mohon maaf.
Daftar Kepustakaan:
(1) Shihab, Quraish, Tafsir Al-Mishbah Pesan Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Volume 15, Jakarta: Lentera Hati, 2002. (2) Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, Jakarta: Gema Insani, 2000. (3) Ash Shiddiqy, Teungku Muhammad Hasbi, Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur Jilid 5, Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 1995. (4) Shihab, Quraish, Tafsir al-Misbah : Pesan, Kesan dan keserasian al-Qur’an, Juz II, Jakarta : Lentera Hati, 2002

Share artikel ke :

Facebook Twitter Google+

0 komentar:

Post a Comment

*Terimakasih atas kunjungannya, jika ingin kunjungan balik dari saya silakan memberikan komentar di bawah.
*Maaf No Live link dan No unsur SARAP (Suku, Agama, Ras, Antar golongan, Porno)
*Jika anda ingin mengutip artikel harus disertakan link yang menuju artikel ini. Baca selengkapnya di TOS.
*Jika banner atau link sobat ingin ditempatkan di blog ini, silahkan masuk halaman jawigo.blogspot.com/p/sobatku.html

 
Top