I. TUJUAN
Praktikan dapat menentukan kadar atau konsentrasi dari larutan Argentum Nitrat (AgNO3) dengan prinsip pengendapan Cl- dengan larutan AgNO3 secara bertingkat menggunakan metode titrasi Argentometri cara Mohr pada pH = 7 – 9.
II. DASAR TEORI
Titrasi pengendapan merupakn cara titrasi yang didasarkan terjadinya endapan selama proses titrasi, berdasarkan reaksi pengendapannya, titrasi pengendapan dibagi menjadi dua yaitu :
1). Argentometri, yaitu titrasi yang melibatkan larutan baku AgNO3
2). Titrasi sulfat oleh larutan ion Ba2+, titrasi ini jarang digunakan karena banyak kendala.
Istilah argentometri diturunkan dari bahasa latin argentum yang berarti perak, jadi argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar atau konsentrasi zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasarkan pembentukan endapan dengan ion Ag+.
Berdasarkan cara penentuan titik akhir titrasi, argentometri dibagi menjadi tiga yaitu :
1. Cara Mohr, ialah pembentukan endapan berwarna
2. Cara Volhand, ialah pembentukan zat warna yang mudah larut
3. Cara Fayans, ialah pengendapan dengan indikator adsorbsi.
Titrasi pengendapan adalah salah satu golongan titrasi dimana hasil reaksi titrasinya merupakan endapan atau garam yang sukar larut. Prinsip dasarnya ialah reaksi pengendapan yang cepat mencapai kesetimbangan pada setiap penambahan titran, tidak ada pengotor yang mengganggu serta diperlukan indikator untuk melihat titik akhir titrasi. Metode ini digunakan untu menetapkan kadar ion halogen dengan menggunakan pengendapan Ag +, yang reaksi umumnya dinyatakan sebagai berikut :
Ag+ + X- à AgX (X- = Cl-, Br-, CNS-)
III. ALAT DAN BAHAN
Alat Bahan
1. Statif 1. Indikator K2CrO4 5%
2. Buret 2. Larutan AgNO3
3. Erlenmeyer 3. Larutan baku primer NaCl 0,0100 N
4. Pipet Volume 4. Aquades
5. Pipet Tetes
6. Corong
7. Gelas Kimia
IV. CARA KERJA
1. Ambil larutan Natrium Klorida (NaCl) 0,100 N sebanyak 10,0 mL menngunakan pipet volum kemudian masukkan ke dalam erlenmeyer.
2. Tambahkan 1 mL indikator K2CrO4 5% ke dalam erlenmeyer yang sudah terisi larutan natrium klorida 0,100 N.
3. Siapkan larutan AgNO3 untuk titrasi (tuang larutan AgNO3 ke dalam buret melaui corong, dan pastikan larutan tepat pada angka nol).
4. Titrasi larutan yang ada di erlenmeyer dengan larutan AgNO3.
5. Hentikan titrasi pada saat terbentuk endapan merah bata.
6. Catat hasil yang diperoleh dengan mengamati garis pada buret.
7. Ulangi percobaan (titrasi) minimal 3 kali, untuk mendapatkan hasil yang mendekati akurat
V. HASIL PERCOBAAN
No.
Volume NaCl 0,100 N
Volume AgNO3
1
10,000 mL
0,00 - 10,53 mL
2
10,000 mL
0,00 - 10,00 mL
3
10,000 mL
0.00 - 09,90 mL
4
10,000 mL
0,00 - 09,85 mL
5
10,000 mL
0,00 - 10,20 mL
Rata-rata
10,000 mL
10.096 mL
Perhitungan
N1 . V1 = N2.V2
N AgNO3 =
= 0,0991 N
VI. PEMBAHASAN
Titrasi menggunakan perak nitrat sebagai titran dimana akan terbentuk garam yang sukar larut. Standarisasi larutan AgNO3 dengan NaCl merupakan titrasi yang tergolong dalam presipitimetri jenis argentometri. Reaksi yang terjadi adalah :
AgNO3 (aq) + NaCl(aq) à AgCl (s) + NaNO3 (aq)
AgNO3 (aq) + Cl-(aq) à AgCl (s) putih + NO-3 (aq)
Larutan AgNO3 dan NaCl pada awalnya tidak berwarna (bening), ketika NaCl ditambahkan dengan garam natrium bikarbonat yang berwarna putih, larutan tetap jernih dan garam tersebut larut dalam larutan, penambahan larutan ini dimaksudkan agar pH larutan tidak terlalu asam maupun basa sehingga dapat dikatakan bahwa garam tersebut berperan sebagai buffer.
Metode Mohr biasanya digunakan untuk mentitrasi ion halida seperti NaCl dengan AgNO3 sebagai pentitran dan K2CrO4 sebagai indikator. Ketika NaCl dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan ditambahkan indikator K2CrO4 5% yang kemudian dititrasi sedikit demi sedikit dengan AgNO3 akan terbentuk endapan putih yang merupakan AgCl. Dan ketika NaCl sudah habis bereaksi dengan AgNO3 sementara jumlah AgNO3 masih ada maka AgNO3 akan bereaksi dengan indikator K2CrO4 yang berwarna krem. Dalam titrasi ini, perlu dilakukan secara cepat dan pengocokannya pun juga kuat agar Ag+ tidak teroksidasi menjadi AgO yang menyebabakan titik akhir titrasi menjadi sulit dicapai.
Kadar garam dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan dengan megukur volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag+ dapat tepat diendapkan.
Pada titik akhir titrasi akan menunjukkkan perubahan warna suspensi dari kuning manjadi kuning-coklat. Perunbahan ini terjadi karena timbulnya Ag2CrO4 saat hampir mencapai titik ekivalen, hampir semua ion Cl- berikatan manjadi AgCl. Larutan standar yang digunakan dalam metode ini adalah AgNO3 yang memiliki normalitas 0,100 N, adanya indikator K2CrO4 menyebabkan terjadinya reaksi pada titik akhir dengan titran sehingg terbentuk endapan yang berwarna merah bata, yang menunjukkan titik akhir adalah perubahan warnanya dari warna endapan analit dengan Ag+. Pada analisa Cl- terjadi reaksi
Ag+(aq) + Cl-(aq) AgCl(s) sedangkan pada titik akhir titran juga bereaksi menurut reaksi 2Ag+(aq) + CrO4(aq) Ag2 CrO4 (s)
Pengaturan pH sangat diperlukan agar tidak terlalu rendah ataupun tinggi jadi pengendalian pH sangat diperlukan untuk memberikan konsentrasi yang tepat dari anion indikator tanpa mengendapkan zat yang tidak diinginkan. Apabila pH terlalu tinggi maka akan tenrbentuk endapan AgOH yang selanjutnya terurai menjadi Ag2O sehingga titran terlalu banyak terpakai.
2Ag+(aq) + 2OH-(aq) 2AgOH (s) Ag2O(s) + H2O(l)
Bila pH terlalu rendah, ion CrO4- sebagian akan berubah manjadi Cr2O7-
2H+ + 2CrO4-2 Cr2O7-2 + H2O
Reaksi inilah yang mengurangi konsentrasi indikator dan menyebabkan tidak menimbulkan endapan atau sanagt terlambat.
Selama titrasi Mohr larutan harus diaduk secara baik bila tidak secara lokal akan terjadi kelebihan titran yang menyebabkan indikator mengendap sebelum titik ekivalen tercapai dan dioklusi oleh endapan AgCl yang terbentuk kemudian, akibatnya titik akhir manjadi tidak tajam.
Dari percobaan kami diperoleh volume rata-rata AgNO3 ­sebanyak 10,875 mL, sehingga diperoleh Normalitas AgNO3 0,0099 N melalui rumus N1.V1 = N2.V2.
Kelemahan titrasi Mohr adalah jika terjadi kelebihan titran akan menyebabkan indikator mengendap sebelum titik ekivaklen tercapai, sehingga titik akhir titrasi tidak akurat. Selain itu indikator kalium kromat juga harus dengan konsentrasi tertentu, jika kelebihan warna kalium kromat akan menjadi kuning sehingga perubahan warna pada saat titik ekivalen sulit dilihat karena kalium romat bereaksi dengan AgNO3 membentuk Ag2Cr2O4 yang berwarna krem.
VII. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa normalitas atau konsentrasi AgNO3 (argentum nitrat) dapat diketahui melalui analisis menggunakan metode titrimetri, titrasi argentometri dengan standar primer natrium klorida (NaCl) 0,100 N yang melibatkan K2CrO4 sebagai indikator yang menunjukkan perubahan warna menjadi endapan merah bata pada titik ekivalen.
Konsentrasi dari AgNO3 dapat diketahui berdasarkan volume AgNO3 rata-rata yang diperoleh dari titrasi yaitu 10,875 mL sehingga dengan rumus N1.V1 = N2. V2 didapatkan konsentrasi AgNO3 0,0099 N
DAFTAR PUSTAKA
Alexander, V., Quantitative Analysis, Moscow : MIR Publisher, 1969
Harjadi, W., Ilmu Kimia Analitik Dasar, Jakarta : PT Gramedia, 1986
Hidayati, Ana, Petunjuk Praktikum Dasar Kimia Analitik, Semarang : Tadris Kimia Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2009
Ibnu, M. Sodiq dkk.Kimia Analitik I, Malang : F MIPA Universitas Negeri Malang, 2004
Khopar, Konsep Dasar Kimia Analitik, Jakarta : Universtas Indonesia Press, 1990

Share artikel ke :

Facebook Twitter Google+

4 komentar:

  1. Maz, laporan praktikumny cm DKA aja? yg lainnya maz. hehehe,,, bwt reference :)

    ReplyDelete
  2. Terima kasih ya. Praktikum argento saya terbantu :)

    ReplyDelete

*Terimakasih atas kunjungannya, jika ingin kunjungan balik dari saya silakan memberikan komentar di bawah.
*Maaf No Live link dan No unsur SARAP (Suku, Agama, Ras, Antar golongan, Porno)
*Jika anda ingin mengutip artikel harus disertakan link yang menuju artikel ini. Baca selengkapnya di TOS.
*Jika banner atau link sobat ingin ditempatkan di blog ini, silahkan masuk halaman jawigo.blogspot.com/p/sobatku.html

 
Top